Laporan
Kunjungan Media Dan Objek Wisata Palembang
Pada tanggal
29 April lalu, mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik mengadakan kunjungan media
dan Objek Wisata Palembang. Tempat-tempat yang kami kunjungi merupakan tempat
pusat peninggalan kerajaan sriwiyaya pada masa dulu. Sehingga hampir seluruh
bangunan yang ada merupakan bangunan-bangunan tua peninggalan kerajaan
sriwijaya yang dibangun menurut arsitektur Kuno.
Dalam
perjalanan ini, banyak sekali hal-hal yang dapat dipelajari sehubungan dengan
kuliah Ilmu Komunikasi. Peninggalan atau aset lama merupakan salah satu contoh
yang saya ambil sebagai bahasan untuk laporan kunjungan media dan objek wisata.
Yang dapat saya pelajari tentang peninggalan atau aset pada perjalan ini adalah
bagaimana sebuah peninggalan menjadi aset berharga, baik dalam bentuk bangunan bersejara
dan makam peninggalan yang dapat terlihat bentuknya oleh peninggala itu
sendiri. Selain taman wisata Bukit Siguntang kami juga mengunjungi berbagai
macam tempat media dan objek wisata diantaranya kator Redaksi Sumatra Ekspres,
Museum Balaputra Dewa, Taman Wisata Punti Kayu, dan Al-Quran Al-Akbar.
Hal ini
dapat kita lihat dengan mengambil contoh pada sejarah taman wisata Bukit
Siguntang. Berdasarkan cerita legenda dan dongeng, setiap tokoh yang dimakamkan
itu memiliki karisma dan sejarah masing-masing. Kini, masing-masing makam yang
berada di kaki bukit dan mengarah ke puncak bukit masih terawat baik. Dari
hasil penemuan pada tahun 1920 di sekitar bukit ini telah ditemukan sebuah
patung (arca) Buddha bergaya seni Amarawati yang raut wajah Srilangka berasal
dari abad XI masehi yang sekarang diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud
Badaruddin II.
Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan
karena di sini terdapat beberapa makam Raja Sriwijaya. Di antaranya Radja Si
Gentar Alam, Putri Kembang Dadar, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus Karang,
Putri Rambut Selako, Pangeran Radja Batu Api, Panglima Tuan Djundjungan. Para
tokoh itu berasal dari masa akhir Kerajaan Sriwijaya dari Mataram Hindu dan
keturunan Majapahit.
Nyai Atun (80), salah seorang juru kunci yang berasal
dari Pacitan, Jawa Timur, sudah puluhan tahun kerja di sana. Saat ditemui Suara
SJI, Atun menyayangkan tak ada petunjuk khusus yang bisa didapatkan soal
sejarah dan bagaimana keberadaan makam-makam itu. ”Di depan makam hanya
tertulis nama tokoh dengan tujuh makam Raja Sriwijaya, tanpa keterangan sedikit
pun,” ungkapnya.
Menurut Atun, Kerajaan Sriwijaya memiliki hubungan
dengan Mataram kuno dan Majapahit yang pusat kerajaannya berada di Kota
Palembang. Hal ini dikuatkan dengan foto udara yang menggambarkan adanya
kanal-kanal yang menunjukkan tempat pertahanan atau benteng dari kerajaan.
Sebaliknya, Kepala Bidang Objek Pariwisata Kota
Palembang Ahmad Zazuli mengatakan, di Bukit Siguntang terdapat delapan makam.
Yang terakhir adalah Panglima Jago Lawang. “Memang tak begitu jelas tentang
keberadaan makam itu. Yang pasti, makam itu berada di dataran tinggi untuk
menghindari banjir,” ujarnya.
Bukit Siguntang pernah menjadi pusat Kerajaan
Palembang yang dipimpin Parameswara, adipati di bawah Kerajaan Majapahit.
Sekitar tahun 1511, Parameswara memisahkan diri dari Majapahit dan merantau ke
Malaka. Di sana ia sempat bentrok dengan pasukan Portugis yang hendak menjajah
Nusantara. Adipati itu menikah dengan putri penguasa Malaka, menjadi raja, dan
menurunkan raja-raja Melayu yang berkuasa di Malaysia, Singapura, dan Sumatera.
Radja Sigentar Alam merupakan raja tertua di antara
tujuh raja Sriwijaya. Kisah perjalanan Raja Macedonia ini, menurut versi cerita
rakyat Melayu, adalah cerita tentang Radja Sigentar Alam. Nama aslinya Iskandar
Zulkarnain Sahalam, dengan nama serumpun Malaysia Johor. Kakaknya bernama
Permai Swana dengan nama asli Datuk Iskandar Sahalam yang berada di Malaysia
Johor.
Radja Sigentar Alam berasal dari Kerajaan Mataram Kuno
Majapahit, yang menganut agama Hindu-Buddha. Datang ke Lembang Melayu membawa
kapal mengarungi samudera hingga tiba di Lancang Kuning. “Ketika datang ke sini
jangkarnya terkait di tanah segumpal, karena masa dulu semua dunia merupakan
samudra laut yang luas. Kapal tersebut terdampar, kemudian menghilang,” tutur
Atun sembari merangkai kembang tujuh warna itu.
Lain halnya dengan Putri Kembang Dadar, seorang putri
dari kahyangan dengan nama asli Putri Bunga Malur, anak Bunda Kahyangan.
Percaya atau tidak, kalau Putri Kembang Dadar ini berada di atas kahyangan,
maka langit menjadi mendung, gelap dan berpelangi. ”Sebaliknya, apabila ia
turun dari atas kahyangan, maka petir dan hujan pun akan turun,” ungkapnya.
Sekitar tahun 1554, muncul Kerajaan Palembang yang
dirintis Ki Gede Ing Suro, seorang pelarian Kerajaan Pajang, Jawa Tengah.
Kerajaan ini juga mengeramatkan Bukit Siguntang dengan mengubur jenazah
Panglima Bagus Sekuning dan Panglima Bagus Karang. Keduanya sama-sama berasal
dari Mataram Kuno Majapahit. Kedua tokoh itu berjasa memimpin pasukan kerajaan
saat menundukkan pasukan Kesultanan Banten yang menyerang Palembang.
Berbeda lagi dengan Putri Rambut Selako. Nama aslinya
Putri Kencana Bungo, berasal dari Keraton Yogya, anak dari Prabu Wijaya.
Pangeran Radja Batu Api berasal dari Jeddah, sedangkan Panglima Tuan
Djundjungan berasal dari Arab yang menyebarkan agama Islam.
Aan (23), salah satu warga Bukit Siguntang sekaligus
pengunjung yang ditemui bersama tiga temannya mengatakan, biasanya mereka
datang ke tempat itu untuk foto-foto sambil menikmati suasana di sore hari.
”Tempat wisata ini harus dijaga agar tidak rusak. Pemerintah juga harus peduli
terhadap wisata yang kita miliki sekarang,” ujarnya.
Meski tak bisa menjamin akan mendapatkan jawaban atas
misteri para tokoh sejarah yang dimakamkan di bukit ini, minimal kita akan
melihat bukti nyata bahwa para tokoh dalam cerita itu dan lokasi makam yang
penuh dengan misteri dan teka-teki, memang benar ada. Akan tetapi taman wisata
bukit siguntang ini akan tetap menjadi salah satu objek wisata yang banyak
peminatnya.
Sumber
gambar. Kreasi penulis dari berbagai sumber gambar



JANJI NILAI A
BalasHapus